Sabtu, 21 Agustus 2010

MEMULAI KEPELATIHAN DI PPS PANDAWA

Memulai kepelatihan di PPS PANDAWA, di awal-awal memang terasa agak kaku. Pada hari pertama memulai latihan, dimana sebelumnya hanya melihat kegiatannya saja, dikarenakan waktu itu belum mempunyai baju berlatihnya, saya ikuti dengan agak grogi juga. Ini disebabkan pada saat acara pembukaan kepelatihan selalu dibacakan Sumpah/Janji PPS PANDAWA yang mana hanya asal tunjuk saja pelatihnya kepada siapa yang harus membaca. Memang meskipun tidak mungkin saya yang membaca Sumpah/Janji PPS PANDAWA tersebut yang dikarenakan saya anggota baru, saya juga belum diberikan AD/ART PPS PANDAWA yang salah satu halamannya memuat Sumpah/Janji PPS PANDAWA tersebut, sehingga saya juga belum tahu apa yang harus diucapkan. Yang paling membuat deg-degan adalah bila ada yang salah dalam membacanya, sudah pasti push-up 10 kali ganjarannya.
Setelah kegiatan acara pembukaan, kemudian dilakukan lari-lari mengelilingi lapangan kepelatihan, lumayan juga, 10 kali putaran, yang kemudian dilanjut dengan senam pemanasan. Dan memang nasib anggota baru, setelah kegiatan senam pemanasan dilakukan, yang lainnya mulai dengan melakukan Jurus Gabungan, saya hanya dipersilakan istirahat dulu, ya akhirnya hanya jadi penonton lagi hari itu.
Cukup menarik juga setiap kegiatan yang saya perhatikan pada saat itu, dimulai dengan Jurus Gabungan, yang kemudian dilanjut dengan Jurus Getret, yang akhirnya ditutup dengan Jurus Kawinan. Banyak juga yang akhirnya senasib dengan saya, dalam arti, mungkin mereka juga masih anggota baru, sehingga masih dapat satu atau dua jurus saja. Ini terlihat dari beberapa anggota yang setelah berjurus baru satu atau dua jurus, begitu dilanjut dengan jurus berikutnya dia langsung memberi hormat kepada asisten pelatih didepan yang selalu aktif dalam menghitung dan membenahi gerak dari anggota yang lain, dan duduk disamping saya menjadi penonton juga. Satu demi satu anggota "berguguran" juga dikarenakan belum mendapatkan jurus berikutnya, dan kegiatan kepelatihan usai hingga jurus Kawinan selesai dilaksanakan. Semua anggota yang tersisa memberi hormat pada asisten pelatih dan bubar istirahat.
Pada saat istirahat inilah saya dipanggil oleh asisten pelatih lainnya. Saya mulai dilatih dalam berjurus. Pertamakali saya berpikir akan mendapatkan jurus Getret yang pertama, tapi ternyata saya salah. Saya hanya diberikan 5 gerakan pertama Jurus Gabungan !, dan itupun dilakukan secara berulang-ulang 5 jurus tersebut sampai hafal. Saya juga diberi pengertian dari gerakan 5 Jurus Gabungan pertama tersebut, mengenai arti dari jurus tersebut, gerakan pertama, gerakan tangan kiri, gerakan tangan kanan, arah sasaran dan lain sebagainya. Setelah kemudian diulang lagi 5 gerakan pertama Jurus Gabungan tersebut, juga setelah dibenahi geraknya, saya disuruh istirahat kembali. Wah capek juga, meski hanya bergerak dalam 5 jurus, tapi pengulangannya mencapai 5 kali !, wah gerak 25 jurus ini jadinya.
Setelah beristirahat selama 10 menit kepelatihan dilanjutkan oleh anggota yang jurusnya memang sudah banyak, dimulai dengan jurus Leuleusan, atau biasanya dinamakan jurus Lemasan, kemudian Jurus Sera, dan kemudian dilanjut istirahat kembali. Ketika saya mengamati jurus lemasan itu saya tertawa dalam hati, kok jurus pelan sekali geraknya, bagaimana bisa buat bela diri kalau geraknya begitu ?, bisa sudah dihabisi lawan duluan kalau geraknya pelan begitu, batin saya. Tetapi ketika melihat Jurus Sera, kelihatan sekali kekuatan jurusnya, itu yang saya lihat.
Setelah istirahat sekitar 10 menit, mulailah acara yang sejak tadi saya tunggu-tunggu, perintah "melingkar", praktek, acara yang sejak pertama saya lihat saya anggap "dagelan" itu dimulai. Mulailah semua anggota "melingkar", yaitu duduk sepanjang pinggiran lapangan kepelatihan. Dengan anggota saat itu sekitar 50-an orang sudah duduk mengelilingi lapangan, mungkin ini yang dimaksud melingkar, yaitu melingkari lapangan kepelatihan duduknya. Saya hanya berfikir bagaimana kalau jumlah anggotanya sedikit ya, lha kalau melingkar apa enggak hanya dipojok-pojok saja ada anggotanya ?.
Dan praktekpun dimulai, satu per satu anggota yang masih bersabuk putih mulai beraksi, dijatuhkan kekiri dan kekanan, didorong, dan bahkan ada yang terbanting. Wah saya enggak bisa membayangkan sakit atau pusingnya diperlakukan begitu oleh sang "dalang". Wah ternyata juga tidak satu per satu juga, bahkan ada langsung 3 anggota yang maju praktek, dan sudah bisa dipastikan bergelimpangan semua. Saat anggota sabuk biru yang mulai melakukan praktek, saya baru menyadari bahwa tidak semua anggota sabuk putih yang ikut praktek, termasuk anggota disebelah saya. Waktu saya tanyakan mengapa tidak ikut praktek, jawabnya cukup mengejutkan, belum dapat jurus ke 3 Getret. Waktu saya tanyakan penambahan jurusnya berapa lama, jawabnya hanya membuat saya mengendur semangat saya, bayangkan, 3 bulan sekali penambahannya. Lha kalau 1 jurus 3 bulan, kan 3 jurus sudah 9 bulan, ditambah lagi saya hanya mendapatkan penambahan 5 jurus dari Jurus Gabungan, lha terus kapan saya prakteknya ya ?. Konsentrasi saya melihat praktek sudah berganti dengan hitung-menghitung, yang akhirnya tak terasa kalau praktek sudah selesai.
Dimulailah sekarang acara penutupan kepelatihan. Setelah semua rapi berbaris, dengan dikomando oleh salah seorang anggota sabuk biru ujung kuning, ditutuplah acara kepelatihan hari itu dengan doa, dan setelah dibubarkan, bersalam-salamlah semua anggota yang terus dilanjut berganti baju dan pulang. Cukup berkesan juga acara kepelatihan pada hari itu, meskipun saya hanya mendapatkan 5 jurus yang itupun hanya Jurus Gabungan, perlu diulang-ulang dirumah agar cepat menguasai Jurus Gabungan kalau ingin cepat praktek pikir saya, dan tak terasa sudah sampai dirumah. Waktu saya masuk kamar itulah baru saya terkejut, hampir jam 1 malam !. Kegiatan yang dilakukan mulai jam 7 malam itu berakhir jam 00:30 WIB, tak terasa juga waktu berputar. Setelah mandi dulu sebelum beristirahat saya setel beker agar tidak ketinggalan Sholat Subuh, yang nantinya setelah Sholat Subuh ada kegiatan baru, berlatih jurus-jurus PPS PANDAWA yang sudah diajarkan.

Minggu, 14 September 2008

MENJADI CANTRIK DI PPS PANDAWA

Memulai menjadi anggota PPS PANDAWA membuat saya serba salah. Setahun lebih digembleng dengan tatacara pembukaan latihan di kegiatan Karate dahulu, sekarang sangat berubah.
Setelah saya mendaftarkan diri terlebih dahulu, kemudian saya hanya melihat kegiatannya saja yang dilakukan oleh anggota-anggota yang sudah ada. Cukup banyak juga, sekitar 50 anggota. Kegiatan yang selalu dilakukan pada hari Rabu dan Minggu malam itu berlangsung mulai pukul 19.00 - 22.00 WIB, bertempat di halaman SD, di jalan Widodaren, Surabaya. Pantas saja nama rantingnya adalah Ranting Widodaren. Saya ikuti kegiatan demi kegiatan, mulai dari persiapan kegiatan, pembacaan doa, pembacaan sumpah/janji pendekar PPS PANDAWA, senam, senam jurus gabungan, kegiatan jurus yang dilakukan oleh sabuk terendah hingga tertinggi, hingga akhirnya kegiatan praktek, yang nampaknya merupakan kegiatan puncaknya sebelum diadakan acara penutup latihan.
Tak terasa menit demi menit yang saya amati, waktu sudah menunjukkan pukul 23.15 WIB !, lewat dari waktu sesungguhnya. Wah tak terasa juga waktu berlalu. Setelah kegiatan ditutup, seluruh anggota membubarkan diri, pulang ke rumah masing-masing, dengan sebelumnya saling bersalam-salaman terlebih dahulu.

ALASAN MENJADI PENDEKAR PPS PANDAWA


Mungkin banyak alasan saudara sekalian memilih sesuatu kegiatan yang berhubungan dengan olah gerak tubuh kita, bisa mungkin untuk menjaga kesehatan tubuh, mengobati penyakit yang mungkin saudara derita saat itu, atau bahkan untuk bela diri. Karena memang kegiatan itu berhubungan dengan olahraga bela diri tentu, seperti Karate, Yudo, Kempo, Pencak Silat, dan lain sebagainya.
Tapi pernahkah saudara ikut kegiatan tersebut karena ikut-ikutan, yang kemudian menjadi salah satu hoby kegiatan saudara ?. Tentunya ini adalah lain persoalannya, mencintai satu kegiatan yang belum terpikirkan sebelumya.
Pada saat saya mulai mengikuti perkuliahan, sebagai mahasiswa D3 Teknik Elektro ITS Surabaya, sekitar tahun 1985, saya harus memilih salah satu kegiatan ekstra kurikuler. Karena pada saat itu saya sangat senang dengan olah raga renang, saya ingin sekali mengikutinya. Sayangnya pada saat itu olahraga air yang ada tidak ada olahraga renang, sehingga terpaksa saya mengambil kegiatan lain. Alasan saya saat itu ingin mengikuti kegiatan renang juga karena saya memiliki penyakit pernapasan, yaitu Asma, yang kalau sudah kambuh, tidurpun susah. Harus dengan posisi duduk, sehingga bisa bernapas dengan lega, itupun disertai dengan suara seruling yang keluar dari kerongkongan. Penyakit Asma saya memang agak parah saat itu, saya tidak bisa keluar malam tanpa menggunakan jaket, tidak boleh sakit Flu / Masuk Angin, karena penyakit-penyakit tersebut dapat memicu penyakit Asma saya kambuh dengan parah. Harus ke dokter dan menerima suntikan serta obat untuk melancarkan pernapasan. Jadi kalau dilihat obatnya ada dua, untuk menyembuhkan penyakit Flu dan penyakit Asmanya.
Akhirnya alasan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler untuk penyembuhan gugur sudah. Kegiatan tetap harus diikuti (meski nilainya hanya 1 sks untuk 1 semester/6 bulan), jadi harus memilih salah satu kegiatan lain. Akhirnya saya harus memilih kegiatan dengan alasan kedua, BELA DIRI. Alasan tersebut saya ambil karena memang sejak sekolah tingkat SMP saya mulai punya musuh, itupun bukan musuh di sekolah, tetapi musuh dari tetangga lain. Sebenarnya permusuhan inipun juga dikarenakan anak-anak wilayah RT lain yang sering mengganggu dengan sepak bolanya didekat rumah, sehingga sangat ribut, baik dari suara mulut maupun suara pantulan bola yang dipantulkan ke dinding rumah.
Inilah awal permusuhan antar tetangga, ketika saya harus memperingatkan mereka, malah tantangan yang didapat. Wajar mungkin bagi pemikiran anak-anak saat itu, menyukai pertikaian. Biasanya dalam keadaan itu saya hanya diam saja.
Akhirnya saya mengambil kegiatan bela diri Karate, yang di kampus mengikuti aliran INKAI. Meskipun aliran ini tidak sama dengan aliran Karate yang lain, yang lebih memperbanyak pertarungan antar Karateka, saya cukup mendapat jurus-jurus pelajaran beladiri dari Simpai saat itu, seperti Simpai Darsono (wah yang lainnya saya kok lupa ya, terutama pelatih dari mahasiswa diatas saya).
Seperti biasa, watak anak muda, baru mengikuti kegiatan ini beberapa kali sudah merasa layaknya pendekar. Pukul benda sana, pukul benda sini, memecahkan genting, bata, dan lain-lain yang saat itu ada di sekitar, yang mungkin tanpa saya sadari sifat saya yang biasanya diam saat diganggu sudah berubah. Musuh-musuh yang dulu biasanya saya diamkan saja mulai saya tantang. Tetapi ternyata ada juga yang berkembang pada diri saya, akibat dari menjadi mahasiswa, yaitu cara berpikir. Akibat perkembangan cara berpikir inilah yang menahan saya untuk berkelahi, bahkan pada saat terjadi perkelahianpun, pada saat sudah berada diatas angin, tinggal memukul mukanya saja tidak saya lakukan. Pukulan dan tendangan merekapun hanya saya tangkis sesuai dengan pelajaran beladiri Karate yang saya dapatkan. Apa yang ada dalam pikiran saya saat itu hanyalah demikian, bila saya saat ini menang, mereka tidak akan terima, dan pertarunganpun akan berlanjut terus, terus dan terus, sesuai dengan sifat manusia yang pendendam. Kalah berkelahi perorangan, keroyokan jalan lainnya, dan itu akan selalu berulang.
Akhirnya sampai saat kegiatan ekstra kurikuler selesai, terakhir saya de kyu 6, atau sabuk hijau, saya sudah tidak melanjutkan lagi kegiatan ini, meskipun kegiatan Karate di kampus tetap berlangsung, dikarenakan kesibukan perkuliahan, tapi di rumah saya tetap berlatih. Permusuhan tetap berlanjut walau hingga saya lulus kuliah, sekitar tahun 1989. Tetapi yang saya rasakan tetap adalah penyakit Asma saya. Tidak berubah sedikitpun.
Saat itu saya mempunyai seorang teman bernama Zaenal Arifin. Dari teman saya inilah saya mengetahui adanya kegiatan pencak silat, yang dinamakan PPS PANDAWA, Perguruan Pencak Silat PANDAWA. Sudah lama sebenarnya saya diajak untuk ikut kegiatan ini, tapi mungkin hati saya yang kurang sreg dengan kegiatannya. Saya pernah melihat kegiatannya, mulai dari jurus-jurusnya hingga ke, apa yang mereka sebut praktek. Pada saat itu yang terpikirkan adalah kok seperti sulap ya kegiatan prakteknya. Sepertinya semuanya serba diatur. Saya lihat pada saat itu, yang dinamakan Dalang diserang oleh satu atau lebih anggota lain, dan sejurus kemudian, tanpa sentuhan tangan, anggota tersebut jatuh bergelimpangan, berusaha berdiri dan jatuh berguling-guling kembali. Perasaan saya yang mengatakan bahwa semua diatur itu dikarenakan angoota yang menyerang sang dalang matanya selalu tertuju pada sang dalang, sehingga saat itu saya hanya berpikir jatuhnya hanya sandiwara saja, sesuai arahan sang dalang. Hanya itu saja kegiatan yang saya lihat saat itu.
Hari berganti hari, saya sudah melupakan kejadian itu. Tetapi setiap saya bertemu dengan Zaenal, ia selalu menawari saya untuk ikut bergabung, selalu jika saya bertemu dengannya. Hingga saya punya alasan untuk menolaknya dengan gurauan, "Baik saya akan ikut, tapi kalau kamu sudah bisa menjatuhkan bergulung-gulung seekor kucing !". Alasan yang tidak masuk akal bagi saya tentunya, mungkin juga bagi Zaenal, karena mana mungkin dia yang saat itu masih bersabuk putih bisa melakukan itu. Bagi saya itu hanya alasan saya yang malas saja mengikuti ajakannya.
Tetapi tidak terlalu lama kemudian, ada teman-teman saya yang lain yang juga ingin ikut kegiatan PPS PANDAWA itu. Ilham dan Robert adalah teman saya yang berminat mengikutinya, dan mereka juga memaksa saya juga ikut. Walaupun terpaksa, akhirnya saya ikut juga mengikuti kegiatan PPS PANDAWA yang merupakan kegiatan yang sudah diikuti oleh teman saya Zaenal yang saya beri gurauan itu.

Sabtu, 01 Desember 2007

SEJARAH PPS PANDAWA




PPS PANDAWA atau singkatan dari Perguruan Pencak Silat PANDAWA, yang mana arti dari PANDAWA itu sendiri adalah singkatan dari bahasa Sunda : Pamili Anu Nungtut Dialajar Walagri Ati, Pusat berdirinya adalah kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia. PPS PANDAWA atau yang biasa disebut PANDAWA ini adalah salah satu dari budaya asli Negara Indonesia, berupa olah gerak dan pernapasan khas untuk mencapai satu tujuan dari PANDAWA itu sendiri, adalah untuk membentuk manusia yang WALAGRI ATI. Yang dimaksud dengan Manusia Walagri Ati itu adalah Manusia yang berfikir, bertindak, dan berperilaku suci.
RIWAYAT PERGURUAN PPS PANDAWA
Cikal bakal serta kehadiran "PPS PANDAWA" yang bersumber keilmuan dari Pusat Perguruan di Lengkong, Tasikmalaya, Jawa Barat, tidak lepas dari keberadaan "Paguron Abah Abad" di Lengong jaman dahulu. Bahkan jurus-jurus dasar yang diajarkan di Perguruan tersebut, yaitu : "Getret, Cimande dan Tantungan Leuleus" menjadi jurus pokok yang diajarkan dalam PPS PANDAWA sampai saat ini. Paguron tersebut dipimpin oleh Abah Abad, dengan murid-muridnya antara lain waktu itu adalah : Abah Kanta (wakil Abah Abad), Abah Salnan, Achdi Subadi, Lili, Wachdi, Aceng, Udin, Oo Taryo, Endo, Uwar Suwarna, Djayo Sukirman, Andi, Doyo, Wachya, dan lain-lain.
Tahun 1935 telah muncul gagasan untuk memberi nama Perguruan tersebut "PPS PANDAWA" yang bertopang pada 5 (lima) kader Perguruan waktu itu, yang diprakarsai oleh Abah Salnan bersama Achdi Subadi, Kanta, Aceng dan Udin. Pada perkembangan berikutnya, masih tahun 1935, untuk menghindari kultus individu, maka orientasi nama PANDAWA bukan kepada  5 orang tokoh sesepuh/kader waktu itu, tapi lebih diarahkan kepada pembinaan/pembentukan manusia yang berhati bersih, sehat jasmani dan rohani, sehingga nama PANDAWA diartikan sebagai singkatan dari "Pamili Anu Nungtut Di Alajar Walagri Ati". Hal tersebut diprakarsai oleh Abah Salnan, Achdi Subadi, Uwar Suwarna, Oo Taryo dan Endo.
Tahun 1975 Abah Abad, Abah Kanta, Udin dan Aceng pindah dari Lengkong, maka secara penuh Perguruan dipercayakan kepada Abah Salnan, Achdi Subadi, Oo Taryo, Uwar Suwarna dan Endo untuk diterus kembangkan hingga sekarang.






Kunjungi juga kami di www.ppspandawa.com